Rabu, 20 Juni 2012

“KAMU yang UNLUCKY”

Diposting oleh --Novi Things-- di 08.32

Bersikap toleransi lah sedikit. Sebenarnya cukup dengan tidak membicarakan kejekan orang sudah cukup baik lah. Apakah sangat sulit untuk mengontrol mulut untuk tidak membicarakan kejelekan orang? masyaolloh. Memang saya sering ngomongin orang di blog ini. Tapi, kadang kala, membicarakan orang lain dibelakang itu jauh lebih bijaksana daripada dibicarakan di depan orang yang dimaksud.
            Well. Langsung ke pokok pembicaraan. Alasan kenapa aku post tulisan ini.
            Sebenarnya masalahnya bukan hanya sekali ini terjadi. Tepatnya, post kali ini merupakan puncak dari bertumpuknya hinaan yang dipaparkan oleh si, anggap aja “A”. Terus terang, A ini adalah orang yang berpendidikan. No doubt. Dia sekarang sedang menyelesaikan program S2 dy dan sebenarnya, aku sangat mengaguminya karena ia terkesan pintar berbicara “awalnya”.
            Belum aku ceritakan ya? Aku adalah anak blasteran. Maksudnya, aku gabungan antara Bima dan Lombok. Orang tuaku both adalah anak Bima asli. Sementara aku lahir dan besar di Lombok. Aku sayang Bima sebagai tanah kelahiran orang tuaku. Aku sering berkunjung kesana dan orangnya welcome banget sama aku. Walaupun banyak rumor yang mengatakan kalo anak bima itu agak kasar. Aku juga sayang Lombok. Kebudayaan dan ke-khas-an Lombok mengalir dalam darahku. Secara aku hidup, lahir dan grow up di Lombok, otomatis aku menjadi cinta mati sama Lombok. Jangan Tanya alasannya lagi.
            Masalahnya, si A dan ibunya ini adalah orang Bima. Entah kenapa, disetiap ada kesempatan, ia menjelek – jelekan orang Lombok. Orang Lombok suka nyuri lah, suka boros lah, dan beberapa kebiasaan jelek lainnya. Berbekal dengan seiprit waktu yang mereka habiskan dilombok membuat mereka seperti PANTAS dan BERHAK menilai Lombok. CIH! Mereka juga memaparkan fakta – fakta yang menjadi alasan argument mereka. Well, tidak semuanya salah. Bahkan sebagian besar benar. Tapi apa tidakan mereka dapat dibenarkan? Mengungkapkan alasan dan kejelekan Lombok didepan public sekaligus di depan orang yang LAHIR dan HIDUP di Lombok ini? Bijaksanakah?
            Seketika, rasa respect dan banggaku lenyap terhadap mereka. Benar – benar rendahan sikap seperti itu. Apa gunanya ilmu setinggi gunung, gelar yang WAH kalau ternyata mulut dan akal TIDAK bisa dikontrol? Apa gunanya ? lebih baik tidak punya ilmu, tidak punya gelar tapi bisa menempatkan posisi kapan harus ini, kapan harus itu.
            Saya tidak mempermasalahkan “KALIAN” membicarakan kejelakan KAMI. Yang saya permasalahkan ialah HARUSKAH kalian membicarakan itu TEPAT ketika saya juga mendengarkannya? Apa maksudnya? Tolong! Sekolahkan dulu mulut baru sekolahkan akal. Untuk apa title S2 tapi mulut titlenya SD? Bahkan lebih hina dari SD? Anak SD aja tau kapan harus baik kapan harus jahat. Mudahan kalian dapat merubah sikap.





Note :
Yang saya herankan, kenapa mereka selalu membicarakan tentang “orang” Lombok yang jelek. Apakah mereka memang terlalu unlucky, sehingga selalu bertemu dengan orang Lombok yang seperti itu? FYI, selama almost 20 tahun saya hidup dilombok, saya tidak pernah bertemu dengan orang tipe kayak gitu. Wah. Itu mungkin saya yang beruntung karena bertemu dengan orang Lombok bertipe baik atau kamu yang terlalu HINA sehingga bertemu dengan orang seperti “ITU”? sekian.  

0 komentar:

Posting Komentar

 

--all the non-sense thing is exist-- Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei