Bersikap toleransi lah sedikit. Sebenarnya cukup
dengan tidak membicarakan kejekan orang sudah cukup baik lah. Apakah sangat
sulit untuk mengontrol mulut untuk tidak membicarakan kejelekan orang? masyaolloh.
Memang saya sering ngomongin orang di blog ini. Tapi, kadang kala, membicarakan
orang lain dibelakang itu jauh lebih bijaksana daripada dibicarakan di depan
orang yang dimaksud.
Well.
Langsung ke pokok pembicaraan. Alasan kenapa aku post tulisan ini.
Sebenarnya
masalahnya bukan hanya sekali ini terjadi. Tepatnya, post kali ini merupakan
puncak dari bertumpuknya hinaan yang dipaparkan oleh si, anggap aja “A”. Terus
terang, A ini adalah orang yang berpendidikan. No doubt. Dia sekarang sedang
menyelesaikan program S2 dy dan sebenarnya, aku sangat mengaguminya karena ia
terkesan pintar berbicara “awalnya”.
Belum
aku ceritakan ya? Aku adalah anak blasteran. Maksudnya, aku gabungan antara
Bima dan Lombok. Orang tuaku both adalah anak Bima asli. Sementara aku lahir
dan besar di Lombok. Aku sayang Bima sebagai tanah kelahiran orang tuaku. Aku sering
berkunjung kesana dan orangnya welcome banget sama aku. Walaupun banyak rumor
yang mengatakan kalo anak bima itu agak kasar. Aku juga sayang Lombok. Kebudayaan
dan ke-khas-an Lombok mengalir dalam darahku. Secara aku hidup, lahir dan grow
up di Lombok, otomatis aku menjadi cinta mati sama Lombok. Jangan Tanya alasannya
lagi.
Masalahnya,
si A dan ibunya ini adalah orang Bima. Entah kenapa, disetiap ada kesempatan,
ia menjelek – jelekan orang Lombok. Orang Lombok suka nyuri lah, suka boros
lah, dan beberapa kebiasaan jelek lainnya. Berbekal dengan seiprit waktu yang
mereka habiskan dilombok membuat mereka seperti PANTAS dan BERHAK menilai Lombok.
CIH! Mereka juga memaparkan fakta – fakta yang menjadi alasan argument mereka. Well,
tidak semuanya salah. Bahkan sebagian besar benar. Tapi apa tidakan mereka
dapat dibenarkan? Mengungkapkan alasan dan kejelekan Lombok didepan public sekaligus
di depan orang yang LAHIR dan HIDUP di Lombok ini? Bijaksanakah?
Seketika,
rasa respect dan banggaku lenyap terhadap mereka. Benar – benar rendahan sikap
seperti itu. Apa gunanya ilmu setinggi gunung, gelar yang WAH kalau ternyata
mulut dan akal TIDAK bisa dikontrol? Apa gunanya ? lebih baik tidak punya ilmu,
tidak punya gelar tapi bisa menempatkan posisi kapan harus ini, kapan harus
itu.
Saya
tidak mempermasalahkan “KALIAN” membicarakan kejelakan KAMI. Yang saya
permasalahkan ialah HARUSKAH kalian membicarakan itu TEPAT ketika saya juga
mendengarkannya? Apa maksudnya? Tolong! Sekolahkan dulu mulut baru sekolahkan akal.
Untuk apa title S2 tapi mulut titlenya SD? Bahkan lebih hina dari SD? Anak SD
aja tau kapan harus baik kapan harus jahat. Mudahan kalian dapat merubah sikap.
Note :
Yang saya herankan, kenapa mereka selalu
membicarakan tentang “orang” Lombok yang jelek. Apakah mereka memang terlalu unlucky,
sehingga selalu bertemu dengan orang Lombok yang seperti itu? FYI, selama
almost 20 tahun saya hidup dilombok, saya tidak pernah bertemu dengan orang
tipe kayak gitu. Wah. Itu mungkin saya yang beruntung karena bertemu dengan
orang Lombok bertipe baik atau kamu yang terlalu HINA sehingga bertemu dengan
orang seperti “ITU”? sekian.


0 komentar:
Posting Komentar