sepenggal prosa ini di persembahkan buat adikku tersayang, Dian fitriani. Adikku yang mampu membuktikan dan mempertontonkan kelebihannya kepada keluarganya, teman – temannya, terlebih lagi kepada dunianya
Senyum.
Bukanlah hal yang sulit untuk dilakukan. Bukan pula hal yang mustahil untuk
disunggingkan. Tak ayal hal itu menginfeksikan kemuliaan senyuman. Yang membuat
senyum terasa berat untuk dilakukan ialah sungkann-nya pelaku senyum untuk
membungkus senyum itu dengan puing keikhlasan. Sulitnya setiap insan untuk
memapah makna senyuman ke ujung ketulusan.
Namun di sejumlah alasan tersenyum
itu, yang paling sulit dilakukan ialah bagaimana menciptakan sekelumit senyum
itu terpancar di ujung bibir orang terkasih. Sungguh. Membutuhkan kerja keras,
menguras setiap tetes tenaga sampai kadang merobek setiap kesabaran yang mulai
menipis dalam kantung – kantung cadangan keteguhan hati
Tangismu yang mengiris kalbu 3 tahun
yang lalu masih terngiang jelas dalam benakku. Tangis yang kau keluarkan karena
gagalnya usaha dan impian menempelkan senyum bangga di bibir mereka. Gagalnya
dirimu meruntuhkan keangkuhan setiap batas – batas tersembunyi yang kasat mata
dianatara dirimu dan beberapa mereka yang terpilih. Aku masih ingat itu dengan
jelas. Jangan mencoba menghindar.
Namun, herannya, takjubnya aku, kau
masih memiliki banyak cadangan – cadangan semangat yang tak pernah gentar, tak
pernah terkikis oleh waktu dan keadaan. Dalam 3 tahun. Ya. 3 kali 12 bulan,
dikali lagi dengan 30 hari, dikali lagi dengan 24 jam, dikali lagi dengan 60
menit, dan terakhir dengan 60 detik. Kau akan menemukan angka 93312000 dalam
kalkulatormu. Ya, dalam sekian detik itu, kau mampu menumbuhkan kembali
kepercayaan dirimu. Menempelkan setiap kertas berisi semangat – semangat yang
kutahu jarang kau hiraukan, namun, sekedar untuk mengingatkan waktu bahwa kau
pernah tersakiti olehnya. Dalam kurun waktu itu, kau bangkit, dan bangun.
3
tahun terlewati. Waktu yang dulu pernah dengan angkuhnya menertawakanmu, yang
dulu pernah menghanguskan ketentramanmu pun terdiam. Terkejut, kaget dengan apa
yang kau dapat sekarang. Kau boleh berdiri dik. Angkat kepalamu. Tinggikan
harga dirimu. Sunggingkan senyuman yang dulu pernah hilang dari wajahmu.
Senyum. Jangan senyum gembira. Sunggingkan senyum angkuhmu. Kau boleh
melakukannya. Pajangkan senyuman angkuh dan remehkan waktu yang dulu pernah
membuangmu. Dalam siluet kebanggaanmu, kau akan menyadari bahwa kau sebenarnya
adalah orang yang terpilih dibalik kegagalanmu. Selamat dik.

0 komentar:
Posting Komentar